RSS

Urgensi Pendidikan Karakter

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. 
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Untuk lebih lanjut download file berikut:
Urgensi Pendidikan Karakter
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 April 2011 in umum

 

Tutorial Animasi Bayangan

Animasi bayangan merupakan efek yang di berikan pada sebuah objek sehingga objek tersebut terlihat lebih hidup dan berada pada bidang datar. Pada Flash, animasi bayangan sebenarnya duplikasi dari objek aslinya yang di jadikan bayangan. Objek asli yang akan di jadikan bayangan di tempatkan sedemikian rupa sehingga mengikuti gerakan, posisi dari objek yang asli.

Untuk mendapatkan efek warna bayangan yaitu warna gelap dan ada efek blur, pada properti objek duplikasi di berikan tint dengan warna abu-abu, dan pada Filter di berikan efek blur dan di sesuaikan.

(tulisan ketika saya mengikuti training blog)

hhahha.. =D

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 April 2011 in umum

 

Perubahan Minat pada Masa Dewasa Dini

Remaja umumnya mempertahankan minat-minat mereka sewaktu beralih ke masa dewasa. Tetapi minat pada masa dewasa kemudian akan berubah juga. Hal ini disebabkan karena beberapa minat yang dipertahankan dalam kehidupan dewasa tidak sesuai dengan peran sebagai orang dewasa, sedangkan yang lain tidak lagi memberikan kepuasan seperti semula.

Kondisi – kondisi yang mempengaruhi perubahan minat pada masa dewasa dini, antara lain sebagai berikut (Hurlock, 1980) :

1. Perubahan dalam kondisi kesehatan

Menjelang usia setengah baya, umumnya orang merasa bahwa kekuatan dan daya tahnnya tidak lagi seperti semula. Maka mereka bergeser pada minat-minat yang tidak begitu memerlukan kekuatan dan daya tahan, terutama dalam rekreasi mereka.

2. Perubahan dalam status ekonomi

Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal-hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarg adan usaha yang kurang maju, orang cenderung untuk mempersempit minat mereka.

3. Perubahan dalam pola kehidupan

Orang muda harus meninjau kembali minat-minat lama mereka dari segi waktu, tenaga, dana, dan persahabatan mereka untuk mengetahui apakah persahabatan mereka untuk mengetahui apakah hal-hal ini sesuai dengan pola-pola kehidupan mereka yang baru atau apakah hal-hal itu masih memberikan kepuasan seperti dulu.

4. Perubahan dalam nilai

Nilai-nilai baru yang diperoleh seseorang mempengaruhi minat yang sudah ada atau dapat menumbuhkan minat baru.

5. Perubahan dalam seks

Pola kehidupan wanita dewasa sangat berbeda dengan pola kehidupan pria dewasa. Maka perbedaan minat berdasarkan seks menjadi semakin besar dibandingkan pada masa remaja.

6. Perubahan dari status belum menikah ke status menikah

Karena pola kehidupan yang berbeda, orang – orang yang tidak menikah memiliki minat yang berbeda dengan mereka yang menikah yang sama usianya.

7. Menjadi orang tua

Pada waktu orang-orang muda itu menjadi orang tua, mereka umumnya tidak mempunyai waktu, uang, atau tenaga untuk tetap melakukan minat mereka. Minat mereka berubah.orientasi pada kehidupan keluarga menggantikan orientasi pada diri. Apakah merekananti akan meneruskan lagi minat-minat lama mereka sesudah mereka tidak perlu lagi berperan sebagai orang tua sebagian besar tergantung pada seberapa jauh mereka merasakan kehilangan kesempatan mengembangkan minat ini dan sebagian pada kondisi umum kehidupan mereka.

8. Perubahan kesenangan

Apa yang disenangi dan tidak disenangi sangat mempengaruhi minat seseorang dan akan menjadi lebih kuat dengan bertambahnya usia dan ini menyebabkan minat yang mantap setelah ia dewasa.

9. Perubahan dalam tekanan-tekanan budaya dan lingkungan

Pada tiap tahapan umur, minat seseorang dipengaruhi oleh tekanan-tekanan dari kelompok sosialnya. Jika nilai-nilai kelompok sosial berubah, minat juga akan berubah.

 

Perubahan minat biasanya terjadi amat cepat pada masa remaja, se[erti perubahan-perubahan fisik dan psikologis. Jika perubahan tersebut berkurang, perubahan minat jug akan berkurang. Pergeseran minat yang merupakan cirri masa dewasa dini adalah berkurangnya pelbagai minat. Para remaja cenderung mengurangi jenis minatnya daripada mengubah dengan minat yang baru.

Selain itu perubahan kewajiban dan tanggung jawab tidak lalu menyebabkan minat juga ikut berubah, melainkan hanya terdapat pergeseran bobot pada minat baru jika ia bertambah tua, kecuali jika lingkungannya berubah sama sekali atau jika ia memperoleh kesempatan untuk mengmbangkan minat baru disamping adanya keinginan yang kuat untuk mengembangkan minat baru.

Meski variasi minat pada orang dewasa muda sangat luas, beberapa jenis minat tertentu dapat dianggap sebagai cirri orang dewasa muda dalam kebudayaan Amerika masa kini. Jenis minat ini dapat dibagi menjadi minat pribadi, minat rekreasional, dan minat sosial.

Minat Pribadi

  • Penampilan. Ketika orang tumbuh dewasa, pria dan wanita telah belajar untuk menerima perubahan-perubahan fisik dan telah tahu pula memnfaatkannya. Dia sudah tahu bahwa penampilan yangmenarik adalah potensi kuat dalam pergaulan. Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur tigapuluhan, ketika ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat. Namun minat kan penampilan muncul lagi jika mulai ada tanda-tanda ketuaan.
  • Pakaian dan perhiasan. Orang mengetahui bahwa penampilan itu penting bagi keberhasilannya di semua bidang kehidupan, sehingga sering menghabiskan uang dan waktu untuk pakaian dan perhiasan dalam penyesuaian pribadi maupun sosial. Minat ini tidak menjadi berkurang seiring bertambahnya usia.selain meningkatkan penampilan, pakaian pada masa dewasa dini merupakan indikasi sttus soial, symbol individualitas, prestasi sosio-ekonomi, dan meningkatkan daya tarik.
  • Symbol kedewasaan. Orang dewasa muda biasanya berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa dia bukan remaja lagi tapi sudah sepenuhnya dewasa dengan hak-hak, keistimewaan, serta tanggungjawab yang menyertainya. Jika orang-orang muda itu telah memantapkan dirinya sebagai orang dewasa melalui pekerjaan, perkawinan atau telah menjadi orang tua, kebutuhan akan lambing kedewasaan akan berkurang dan pudar.
  • Symbol status. Symbol staus adalah tanda-tanda tertentu yang membedakan seseorang dengan orang lain. Bentuknya bisa berupa mobil, rumah dalam lingkungan bergengsi, keanggotakan klub, dan harga benda mewah lainnya. Rumah merupakan yang paling penting karena menentukan prestisenya di mata orang lain.
  • Uang. Mereka tertarik pada uang karena dapat memnuhi kebutuhan saat ini, daripada untuk hari depan. Ada anggapan jika ia memiliki atau mengerjakan hal-hal yang ada dari kelompoknya, kepemilikan itu akan memepercepat penerimaan dalam kalangan itu serta memantapkan kedudukannya. Berbagai masalah yang ditimbulkan uang berasal dari kurangnya pengetahuan bagaimana memanfatkan uang secara bijaksana atau terbawa kebiasaan sewaktu masih remaja.
  • Agama. Peacock menamankan periode usia duapuluhan sebagai ‘periode dalam kehidupan yang paling tidak religius.’ Mereka jarang ke tempah ibadah dan berdoa. Tapi jika sudah berkeluarga, minat ini kembali muncul karena dia memiliki tanggung jawab moral untuk membimbing anaknya. Factor yang mempengaruhi minat keagamaan pada mada dewasa dini adalah jenis kelamin, kelas sosial. Lokasi tempat tinggal, latar belakang keluarga, minat religius teman-teman, pasangan dan iman yang berbeda, kecemasa akan kematian, dan pola kepribadian.

Rekreasi

Istilah rekreasi diartikan sebagai kegiatan memberikan kesegaran atau mengembalikan kekuatan dan kesegaran rohani sesduah lelah bekerja atau sesudah mengalami keresahan batin. Banyak paktor yang mempengaruhi pola rekreasi orang dewasa dini, antara lain :

  • Kesehatan. Orang-orang muda yang sehat dapa mengikuti bentuk rekreasi yang lebih luas serta fisik lebih melelahkan daripada mereka yang fisiknya lemah. Namun orang-orang yang sehat pun mengurangi bentuk-bentuk rekreasi yang melelahkan apabila mereka sudah setengah baya dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan hiburan dan bentuk rekreasi yang tidak begitu menguras tenaga.
  • Waktu. Orang dewasa tetap kekurangan waktu rekreasi disbanding saat masih remaja karena tanggung jawab rumah tangga dan keluarga, kewajiban terhadap organisasi atau perkumpulan mereka, atau keharusan untuk mencari pekerjaan tambahan supaya dapat memperoleh lambing status dianggap penting. Jadi mereka milih rekreasi yang paling memuaskan, praktis dari segi waktu dan uang.
  • Status perkawinan. Bagi keluarga-keluarga besar kebanyakan rekreasi keluarga dilaksanakan di dalam rumah, yaitu dengan menonton televise, atau permainan-permainan lain yang melibatkan anggota-anggota keluarga.
  • Status sosio-ekonomi. Golongan menengah punya lebih banyak waktu  dan dapatmengikuti lebih banyak bentuk rekreasi, sebagian darinya berhubungan dengan pekerjaan, misalnya membaca. Golongan menengah umumnya mengambil tempat di rumah sedangkan orang muda golongan bawah umumnya ikut serta dengan bentuk-bentuk hiburan komersial di luar rumah.
  • Jenis kelamin. Misalnya sebagian besar rekreasi wanita yang sudah berkeluarga terbatas pada bentuk – bentuk rekreasi di rumah.
  • Penerimaan sosial.orang yang lebih popular akan lebih banyak meiliki kesempatan rekreasi sosial. Orang muda yang masih menyelesaikan sekolahnya, lebih banyak memiliki kesempatan rekreasi daripada yang sudah tidak sekolah lagi.

Sebuah analisis menunjukkan bahwa kegiatan itu berorientasikan keluarga atau lingkungan tetangga dan sangat berbeda dengan remaja. Peubahan in idisebabkan karena anak-anaknya yang masih kecil mengharuskan bentuk rekreasi yang berpusat pada ank. Bahkan bila anaknya sudah remaja, rekreasi orang tua masih juga beorientasi keluarga.

Bentuk – bentuk rekreasi pada usia dewasa dini misalnya sekedar berbincang-bincang, berdansa, atau olah raga dan permainan.

Menjamu (entertainment)

Budget yang terbatas dan tanggung jawab keluarga membatasi frekuensi jamu-menjamu antar orang-orang muda. Menjamu teman dan tetangga biasanya bersifat informal. Barbeque merupakan bentuk menjamu yang paling popular. Menjamu di rumah bisa untuk bermain kartu dengan sajian snack, makan malam sederhana, atau pesta minuman dan makanan kecil. Entertaimen bagi dewasa dini bisa berupa hobi yang dapat dikerjakan di rumah dan dapat dikerjakan sendiri tanpa perlu ditemani atau dibantu orang lain. Kemudian kegiatan yang akan meningkat lainnya adalah hiburan. Hiburan yang popular di kalangan orang dewasa dini antara lain :

  1. Membaca. Waktu yang terbatas membuat mereka selektif dalam memilih bacaannya. Biasanya mereka cenderung membaca surat kabar dan majalah.
  2. Mendengarkan music. Ini merupakan cara untuk mengenyahkan kebosanan dan rasa kesepian. Ada yang suka music pop sejak remaja, ada juga yang klasik.
  3. Film. Orang yang belum menikah sering menonton film. Jika sudah menikah, hal itu akan berkurang, apalgi jika harus mengurus anak ataumemilihkan film yang bisa ditonton juga oleh anak mereka.
  4. Radio. Banyak orang yang mengerjakan tugas ataukegiatannya sambil mendengarkan radio. Radio menyajikan berita maupun hiburan.
  5. Televise. Menonton televisi di malam hari adalah hiburan favorit bagi mereka yang sudah punya anak. Pria lebih menggemari acara olah raga dan wanita lebih menyukai komedi rumahtangga atau pemutaran ulang film terkenal.

Minat sosial

Dalam masa dewasa dini, orang sering merasa kesepian. Havighurst telah menjelaskan bahwa rasa kesepian pada masa dewasa dini terjadi karena periode itu merupakan periode yang kurang teroganisir dalm kehidupna seseorang, yang menandai transisi, dari lingkungan yang terbagi menurut umur ke lingkungan yang terbagi menurut status sosial. Dari sekian banyak pergeseran minat, terdapat perubahan yang paling sulit dan banyak ditemui. Hal tersebut antara lain :

  1. Perubahan dalam peran serta sosial. Beberapa factor yang mempengaruhi pertisipasi sosial pada masa dewasa dini yaitu : mobilitas sosial, status sosial-ekonomi, lamanya tinggal dalam suatu kelompok masyarakat, kelas sosial, kedaan lingkungan, jenis kelamin, umur kematangan seksual, urutan kelahiran, dan kenggotaan kelompok ibadah agama.
  2. Perubahan dalam persahabatan. Keinginan untuk popular dan banyak teman memudar perlahan. Mereka selektif dalam memilih teman. Meski temannya tidak banyak, tapi hubungannya lebih akrab.
  3. Perubahan dalam kelompok sosial. Keakraban dengan teman masa remaja biasanya berlanjut ke masa dewasa. Pada usia pertengahan tigapuluhan atau empatpuluhan, tema semakin banyak, tapi kurang berminat berganti teman. Ini menimbulakn hubungan yang erat dalam kelompok sosial. Salah satu masalah yang berhubungan dengan mobilitas kerja adalah sulitnya untuk mendapat teman baru yang akrab jika keluarga harus pindah ke lingkungan yangbaru.
  4. Perubahan nilai popularitas. Popularitas kurang penting bagi orang yang mendekati usia madya. Beberapa teman yang cocok lebih bernilai daripada kelompok besar yang kurang serasi atau akrab.
  5. Perubahan dalam status kepemimpinan. Orang dewasa meraih status kepemimpinan dengan berbagai cara. Kualitas yang penting bagi pemimpin dewasa antara lain : status sosial ekonomi yang tinggi, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mayoritas dalam kelompok, konsep pribadi yang realistis, tujuan yang realistic, kemampuan menyatakan perbedaan pendapat dengan bijaksana, kemampuan menerima keberhasilan atau kegagalan secara simpatik, kemmapuan dan kesedihan menerima wewenang, kemampuan dan kesedian berkomunikasi dengan orang lain, dan kesediaan bekerja untuk kelompok.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Desember 2010 in psikologi

 

Inspeksi Mendadak dan Penguat Citra Konselor sebagai Polisi Sekolah

  • Pengantar

Menurut Prayitno, dkk (2003), Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Pelayanan tersebut memiliki tujuan-tujuan tertentu yang menjadi target pencapaian. Diharapkan konseli dapat merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, serta kehiduypannya di masa yang akan datang dan mengembangkan seluruh potensi kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin. Selain itu, konseli mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja, sehingga mereka dapat mengatasi hambata dan kesulitan yang dihadapi dalam studi dan penyesuainnya dengan lingkungan sekitar.

Untuk mencapainya, konseli harus mendapat berbagai kesempatan seperti mengenal dan memahami potensi kekuatan, tugas perkembangan, serta peluang yang ada di lingkungan. Konseli harus memiliki kesempatan untuk mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidup serta pencapaiannya. Mereka diberi ruang untuk memahami dan mengatasi kesulitannya sendiri, menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk kepentingan dirinya sendiri dan lingkungan seklitar. Konseli berhak tahu bagaimana cara menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan lingkungannya, sehingga mampu mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dmilikinya secara optimal.

Bimbingan dan Konseling dapat dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Layanan psikologis yang diberikan menjadi sangat penting bagi tujuan pendidikan yang tidak hanya ingin mencapai hasil kognitif yang memuaskan. Sekilas peran Bimbingan dan Konseling terkesan kecil dan remeh bila dibandingnya dengan guru bidang studi. Namun sebenarnya Bimbingan dan Konseling lah yang sangat mempengaruhi apakah siswa mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya, baik itu akademik maupun nonakademik.

Bimbingan dan Konseling membantu siswa dalam mengembangkan diri dan melaksanakan tugas perkembangan. Apabila siswa hanya fokus pada mencapai hasil akademik yang baik, kemungkinan muncul penyimpangan menjadi cukup besar. Siswa menghalalkan segala cara agar mendapat nilai yang tinggi. Angka nilai yang didapatkan memang tinggi, tapi apakah itu tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan. Disinilah pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam pendidikan yang membantu sisiwa mencapai tugas-tugas perkembangnya yang tidak hanya berkutat pada akademik (belajar), tetapi juga aspek pribadi, social, dan karir.

Namun, segala idealisme diatas masih jauh dari kenyataan yang ada di lapangan. Kebanyakan guru BK di sekolah adalah sosok yang galak, mengerikan, suka menghukum siswa, dan istilah-istilah negatif lainnya. Ditambah lagi dengan adanya kegiatan inspeksi mendadak (sidak), dimana guru BK ikut menggeledah lalu menindak siapa saja yang memiliki indikasi pelanggaran. Guru BK yang seharusnya dekat dengan siswa justru menjadi orang yang ditakuti bahkan dibenci.

  • Pencitraan Bimbingan dan Konseling sebagai “Polisi Sekolah”

Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Dalam hal ini, Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling, baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling, tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan Bimbingan dan Konseling. Kekeliruan tersebut diantaranya yaitu :

  1. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.

  2. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter & psikiater.
  3. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental.

  4. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja.

  5. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”.

  6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja.

  7. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.

  8. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.

  9. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.

  10. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain

  11. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain harus pasif

  12. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja

  13. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien

  14. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi

  15. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.

Semua kekeliruan tersebut merupakan PR (Pekerjaan Rumah) besar bagi Bimbingan dan Konseling. Namun diantara sekian banyak permasalah, penulis tertarik dengan kasus bahwa petugas Bimbingan dan Konseling (Konselor) diperankan sebagai “polisi sekolah”.

Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan di sekolah. Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian, bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. Hal itulah yang membuat Bimbingan dan Konseling seakan menjadi daerah terlarang bagi siswa. Bukannya memberikan layanan bantuan, tapi justru suka marah-marah, membentak siswa, dan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar peraturan.

Padahal Bimbingan dan Konseling memiliki kekuatan inti berupa pendekatan interpersonal, konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa, tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Konselor adalah kawan pengiring, penunjuk jalan, pemberi informasi, pembangun kekuatan, dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.

Namun kita bisa melihat apa yang terjadi di lapangan. Di beberapa sekolah, ada sebuah kegiatan rutin yang membuat siswa merasa was-was, yaitu inspeksi mendadak atau sidak. Guru tiba-tiba datang saat pelajaran berlangsung untuk menggeledah barang bawaan siswa, memperlakukan siswa layaknya pelaku kriminal. Guru seperti polisi yang setelah menemukan barang bukti akan melaksanakan tindakan berikutnya berupa pemberian hukuman.

  • Efektivitas Inspeksi Mendadak

Seperti yang telah dijelaskan diatas, inspeksi mendadak (sidak) dilakukan oleh guru untuk mengetahui apa saja barang bawaan yang dibawa siswa ke sekolah. Biasanya yang menjadi sasaran sidak adalah komik, majalah, handphone, alat make-up, senjata tajam dan media-media pornografi, baik dalam bentuk vcd/dvd porno, majalah dewasa, maupun file dalam handphone serta laptop. Dalam sekali sidak, petugas sidak bisa memanen banyak pelanggaran.

Ada juga yang melakukan sidak karena merupakan tindak lanjut dari sebuah kasus yang terjadi di sekolah. Misalnya saja saat terjadi pencurian. Tanpa sepengetahuan siswa, petugas tiba-tiba masuk kelas dan menggeledah barang bawaan siswa untuk mencari barang yang dicuri. Untuk kasus seperti itu, pemberlakukan sidak memang cukup efektif, meskipun masih ada kemungkinan kecolongan karena si pencuri lebih pintar sehingga tidak menyembunyikan hasil curian di tas atau saku, melainkan di tempat lain yang menurutnya lebih aman.

Secara umum, hasil yang didapat dari kegiatan sidak justru akan menyulitkan di kemudian hari. Menurut penulis, sidak justru menjadi stimulus yang kuat bagi siswa untuk melakukan pelanggaran dan mempertahankan/menyembunyikannya. Siswa bukannya akan menjadi kapok, tapi justru tertantang untuk menyusun strategi agar ‘kejahatannya’ tidak diketahui. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, tidak jarang siswa lebih lihai daripada gurunya.

Sidak memiliki efek jera yang relatif singkat walaupun salah jika menganggap perasaan jera sebagai hasil yang ingin kita dapat. Sebenarnya sidak ingin menimbulkan kesadaran siswa untuk mematuhi tata tertib secara frontal. Kenyataannya, mereka yang terkena sidak kebanyakan hanya sedikit merasa takut karena sadar akan mendapat hukuman, tapi setelah itu mereka akan mengulangi hal yang sama.

Efek lain yang ditimbulkan dari sidak adalah rasa trauma. Hal ini terjadi jika yang ketahuan membawa ‘barang terlarang’ merasa sangat malu dengan tindakannya itu dan enggan ke sekolah di hari berikutnya. Hal ini tidak mengada-ngada karena ketahanan dan respon seseorang itu berbeda-beda. Dalam usia remaja yang masih labil, apapun bisa terjadi.

Di tingkat yang rendah, trauma tersebut akan membentuk perasaan negatif terhadap petugas sidak. Karena yang melakukan sidak adalah guru BK mereka, setelah itu siswa-siswa jadi membenci guru BK dan enggan berhubungan dengan semua yang mereka anggap sebagai ‘polisi sekolah’.

Itulah mengapa penulis kurang setuju jika Bimbingan dan Konseling melaksanakan sidak jika tidak benar-benar dalam keadaan yang mendesak atau darurat. Sidak adalah salah satu hal terpenting yang memperkuat citra buruk guru BK. Bukan berarti profesi polisi itu tidak baik. Remaja memiliki wilayah rahasia yang tidak bisa sembarangan dimasuki lalu diotak-atik oleh konselor dan menggeledah bukan cara yang tepat untuk mengenal wilayah itu.

Apalagi jika melihat efek-efek negatif yang ditimbulkan, rasanya cirta guru BK yang galak itu akan semakin kuat saja. Bayangkan saja apa yang dirasakan anak itu jika orang yang seharusnya menjadi tempat berkeluh kesah (konselor) datang dengan wajah masam untuk menyalahkan mereka karena membawa parfum misalnya. Bukannya mendapat simpati, tapi kita justru akan dibenci. Jika mereka memang melakukan pelanggaran, kita pun mempunyai banyak teknik bimbingan dan konseling yang bisa dipakai untuk menanganinya.

  • Petugas Sidak yang Tepat

Sidak memang tidak sepenuhnya salah jika dilakukan dengan alasan dan cara yang benar. Karena itu, kita tidak lantas menentang dan menuntut agar kegiatan tersebut dihapuskan saja. Penulis tertarik dengan sebuah solusi yang dilaksanakan oleh salah satu SMA swasta di Yogyakarta. Sidak tetap dilaksanakan untuk menegakkan peraturan kelas tetapi petugasnya tidak murni berasal dari Bimbingan dan Konseling.

Sebuah sekolah hendaknya memiliki Tim Ketertiban secara mandiri yang terdiri dari guru-guru dan staf sekolah yang dipilih. Mereka bertanggungjawab atas ketertiban yang ada di sekolah dan penangannya. Lalu apa tugas konselor? Konselor akan dapat menjalankan tugasnya dalam memberikan layanan bantuan psikolgis ke siswa.

Hasil dari sidak tersebut dapat kita analisis secara bijak. Kita tidk berkutat pada gejala yang ada. Bukan lagi masalah barang apa yang disita dari sidak itu karena hal itu sudah jelas merupakan temuan Tim Ketertiban. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah apa yang ada di balik itu dan menjadi latarbelakang permasalahan. Kita memberikan layanan kepada siswa bersangkutan untuk mengatasi penyebab masalah yang dia alami.

Siswa membutuhkan dampingan, dalam hal ini konselor yang bijak mengarahkan mereka, bukannya memerintah dan menjadi sahabat untuk bertukar pikiran, bukannya formator. Pendekatan sebagai sahabat sangatlah dibutuhkan untuk membantu siswa mengatasi permasalahannya.

Selanjutnya jika memang harus dilakukan hukuman sesuai tata tertib yang berlaku, konselor harus dapat menjelaskan kepada siswa bahwa hukuman yang akan diterimanya bukanlah sebagai tanda kebencian tetapi sayang. Pelaksanaan hukuman itu seharusnya juga bukan tugas konselor. Tim Ketertiban lah yang sebaiknya melakukan hal tersebut. Meskipun begitu, konselor tidak lantas lepas tangan dari masalah karena kemudian kita bertanggungjawab dalam proses tindak lanjut. Misalnya menumbuhkan kesadaran diri siswa agar lebih bijaksana dalam bersikap.

Sidak bukan menjadi pekerjaan guru BK lagi meski dalam Tim Ketertiban itu terdapat konselor. Akan lebih baik jika konselor disana bertindak sebaai pembaca situasi agar sidak tidak menimbulkan efek-efek negatif atau setidaknya memperkecil kemungkinan tersebut. Dengan begitu, citra guru BK sebagai ‘polisi sekolah’ dapat dikikis perlahan. Jika citra guru BK semakin baik, hal tersebut juga memudahkannya untuk melaksanakan tugas secara optimal dan profesional.

  • Penutup

Siswa memiliki wilayah rahasia yang tidak bisa sembarang dimasuki oleh orang dewasa. Sebagai guru BK, kita harus menggunakan cara yang tepat untuk mendekati mereka, yaitu dengan pendekatan interpersonal. Inspeksi mendadak (sidak) tidak sepenuhnya merupakan cara yang salah. Efek-efeknya yang negatif bagi pencitraan seorang konselor lah yang harus dihindari. Karena itu, petugas sidak sebaiknya tidak murni hanya berasal dari Bimbingan dan Konseling. Hal tersebut dilakukan agar konselor tidak lagi dianggap sebagai ‘polisi sekolah’ yang dibenci siswanya. Citra yang baik sangat penting untuk mengoptimalkan layanan bantuan psikologis secara proferssional.

  • Daftar Pustaka

Prayitno.2003. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Jakarta : Depdiknas.

Rita Eks Izzaty, dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta : UNY Press.

Sunaryo Kartadinata, dkk. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juni 2010 in umum

 

Aku Bisa Bertahan dan Bangkit Kembali : Resiliensi Diri

Ketika perubahan dan tekanan hidup berlangsung begitu intens dan cepat, seseorang perlu mengembangkan kemampuan dirinya sedemikian rupa untuk mampu melewati itu semua secara efektif. Untuk mampu menjaga kesinambungan hidup yang optimal, maka kebutuhan akan kemampuan untuk menjadi resilien sungguh menjadi makin tinggi.

Selanjutnya, bagi manusia, emosi tidak hanya berfungsi untuk survival atau sekedar untuk mempertahankan hidup, seperti pada hewan. Akan tetapi, emosi juga berfungsi sebagai energizer atau pembangkit energi yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia.

Menyadari betapa menariknya dua konsep tersebut, mempelajari keduanya akan menjadi sama menariknya. Seseorang konselor harus memahami konsep tersebut sebagai salah satu cara membantu mengantarkan konseli-konselinya ke pengembangan diri yang optimal.

  • Pengertian Resiliensi

Resiliency means being able to bounce back from life developments that may feel totally overwhelming at first (Al Siebert) Secara umum, resiliensi bermakna kemampuan seseorang untuk bangkit dari keterpurukan yang terjadi dalam perkembangannya. Awalnya mungkin ada tekanan yang mengganggu. Namun orang-orang dengan resiliensi yang tinggi akan mudah untuk kembali ke keadaan normal.

Istilah resiliensi berasal dari kata Latin `resilire’ yang artinya melambung kembali. Awalnya istilah ini digunakan dalam konteks fisik atau ilmu fisika. Resiliensi berarti kemampuan untuk pulih kembali dari suatu keadaan, kembali ke bentuk semula setelah dibengkokkan, ditekan, atau diregangkan. Bila digunakan sebagai istilah psikologi, resi1iensi adalah kemampuan manusia untuk cepat pulih dari perubahan, sakit, kemalangan, atau kesulitan (the Resiliency Center, 2005). Sejumlah ahli yang berbicara tentang resiliensi mengemukakan berbagai definisi resiliensi. Definisi-definisi ini dapat dikelompokan ke dalam tiga sudut pandang utama, yaitu :

  • Resiliensi sebagai Kemampuan Adaptasi

Joseph (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap perubahan, tuntutan, dan kekecewaan yang muncul dalam kehidupan.

Rhodes dan Brown (dalam Isaacson, 2002) juga menyatakan bahwa anak-anak yang resilien adalah mereka yang mampu memanipulasi dan membentuk lingkungannya, menghadapi tekanan hidup dengan baik, cepat beradaptasi pada situasi baru, mempcrsepsikan apa yang sedang terjadi dengan jelas, fleksibel dalam berperilaku, lebih toleran dalam menghadapi frustasi dan kecemasan, serta meminta bantuan saat mereka membutuhkannya.

Sementara itu, Werner dan Smith (dalam Isaacson, 2002) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas untuk secara efektif menghadapi stres internal berupa kelemahan-kelemahan mereka maupun stres eksternal (misalnya penyakit, kehilangan, atau masalah dengan keluarga).

Demikian pula Hetherington dan Blechman (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa orang yang resilien menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih dari cukup ketika rnenghadapi kesulitan.

  • Resiliensi sebagai Kemampuan Bangkit Kembali dari Tekanan

Sudut pandang kedua tentang resiliensi sejalan dengan arti akar katanya yang menyatakan konsep resiliensi sebagai kemampuan melambung kembali dari tekanan atau masalah. Dugall dan Coles (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa resiliensi adalah kapasitas seseorang untuk melambung kembali atau pulih dari kekecewaan, hambatan, atau tantangan.

Rutter (dalam Isaacson, 2002) melihat individu yang resilicn sebagai mereka yang berhasil menghadapi kesulitan, mengatasi stres atau tekanan, dan bangkit dari kekurangan. Resiliensi didefinisikan oleh Wolin dan Wolin (1999) sebagai proses tetap berjuang saat berhadapan dengan kesulitan, masalah, atau penderitaan.

Menurut Gallagher dan Ramey (dalam Isaacson, 2002), resiliensi adalah kemampuan untuk pulih secara spontan dari hambatan dan mengkompensasi kekurangan atau kelemahan yang ada pada dirinya.

  • Resiliensi Terlihat dalam Suatu Keadaan Dimana Seseorang Memiliki Resiko Besar untuk Gagal namun Ia Tidak (gagal).

Rhodes dan Brown (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa anak-anak yang resilien adalah mereka yang beresiko memiliki disfungsi psikologis di masa yang akan datang akibat peristiwa hidup yang menekan, tetapi ternyata pada akhirnya mereka tidak memiliki disfungsi tersebut. Contohnya, tidak semua anak yang putus sekolah gagal mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak, tidak semua remaja nakal menjadi pelaku kriminal di masa dewasanya, dan sebagainya.

Zimmerman dan Arunkumar (dalam Morisson dan Cosden, 1997) menjelaskan resiliensi sebagai faktor dan proses yang mengubah hubungan antara adanya resiko dengan masalah perilaku atau psikopatologi, menjadi hasil yang adaptif.

Dalam perjalanannya, terminologi resiliensi mengalami perluasan dalam hal pemaknaan. Diawali dengan penelitian Rutter & Garmezy (dalam Klohnen, 1996), tentang anak-anak yang mampu bertahan dalam situasi penuh tekanan. Dua peneliti di atas menggunakan istilah resiliensi sebagai descriptive labels yang mereka gunakan untuk menggambarkan anak-anak yang mampu berfungsi secara baik walaupun mereka hidup dalam lingkungan buruk dan penuh tekanan.

  • Faktor-faktor Resiliansi

Grotberg (1995), mengemukakan faktor-faktor resiliensi yang diidentifikasikan berdasarkan sumber-sumber yang berbeda. Untuk kekuatan individu, dalam diri pribadi digunakan istilah ‘I Am’, untuk dukungan eksternal dan sumber-sumbernya, digunakan istilah ‘I Have’, sedangkan untuk kemampuan interpersonal digunakan istilah’I Can’.

·         Karakteristik Individu yang Resilien

Menurut Wolin dan Wolin (1999), ada tujuh karakteristik utama yang dimiliki oleh individu yang resilien. karakteristik-karakteristik inilah yang membuat individu mampu beradaptasi dcngan baik saat mcnghadapi masalah, mengatasi berbagai hambatan, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Masing-­masing karakteristik ini memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam tiap tahap perkembangan (anak, rcmaja, dcwasa).

  • Insight

kemampuan untuk memahami dan memberi arti pada situasi, orang-orang yang ada di sekitar, dan nuansa verbal maupun nonverbal dalam komunikasi, individu yang memiliki insight mampu menanyakan pertanyaan yang menantang dan menjawabnya dengan jujur. Hal ini membantu mereka untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.

  • Kemandirian

kemampuan untuk mengambil jarak secara emosional maupun fisik dari sumber masalah dalam hidup seseorang. Kemandirian melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara jujur pada diri sendiri dengan peduli pada orang lain. Orang yang mandiri tidak bersikap ambigu dan dapat mengatakan “tidak” dengan tegas saat diperlukan. Ia juga memiliki orientasi yang positif dan optimistik pada masa depan.

  • Hubungan

Seseorang yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan, ataupun memiliki role model yang sehat. Remaja mengembangkan hubungan dengan melibatkan diri (recruiting) dengan beberapa orang dewasa dan teman sebaya yang suportif dan penolong. Pada masa dewasa, hubungan menjadi matang dalam bentuk kelekatan (attaching), yaitu ikatan personal yang menguntungkan secara timbal balik dimana ada karakteristik saling memberi dan menerima.

  • Inisiatif

Individu yang resilien bersikap proaktif, bukan reaktif, bertanggung jawab dalam pemecahan masalah, selalu berusaha memperbaiki diri ataupun situasi yang dapat diubah, serta meningkatkan kemampuan mereka menghadapi hal-hal yang tak dapat diubah. Mereka melihat hidup sebagai rangkaian tantangan dimana mereka yang mampu mengatasinya. Anak-anak yang resilien memiliki tujuan yang mengarahkan hidup mereka secara konsisten dan mereka menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk berhasil di sekolah.

  • Kreativitas

Kreativitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup. Individu yang resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif sebab ia mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tiap perilakunya dan membuat keputusan yang benar.

Kreativitas juga melibatkan daya imajinasi yang digunakan untuk mengekspresikan diri dalam seni, serta membuat seseorang mampu menghibur dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan. Anak yang resilien mampu secara kreatif menggunakan apa yang tersedia untuk pemecahan masalah dalam situasi sumber daya yang terbatas. Selain itu, bentuk-bentuk kreativitas juga terlihat dalam minat, kegemaran, kegiatan kreatif dari imajinatif.

  • Humor

Humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan, menertawakan diri sendiri, dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun. Seseorang yang resilien menggunakan rasa humornya untuk memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan. Rasa humor membuat saat-saat sulit terasa lebih ringan.

  • Moralitas

Moralitas atau orientasi pada nilai-nilai ditandai dengan keinginan untuk hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat mengevaluasi berbagai hal dan membuat keputusan yang tepat tanpa takut akan pendapat orang lain. Mereka juga dapat mengatasi kepentingan diri sendiri dalam membantu orang yang membutuhkan. Moralitas adalah kemampuan berperilaku atas dasar hati nurani.

Potensi untuk menjadi individu yang resilien ada dalam diri setiap orang. Namun, diperlukan dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas, agar individu dapat mewujudkan potensi resiliensinya (Benard, 2004).

Secara umum, resiliensi bermakna kemampuan seseorang untuk bangkit dari keterpurukan yang terjadi dalam perkembangannya. Awalnya mungkin ada tekanan yang mengganggu. Namun orang-orang dengan resiliensi tinggi akan mudah untuk kembali ke keadaan normal.

Orang yang resilien lebih mudah dalam mengatur regulasi emosi. Mereka cepat memutus perasaan yang tak sehat, yang kemudian justru membantunya tumbuh menjadi orang yang lebih kuat. Mereka menjadi contoh atas apa yang pernah disampaikan oleh Wilhelm Nietzsche’s : “That which does not kill me, makes me stronger”. “Apa yang tidak membunuh saya, justru akan makin menguatkan saya.”

Sumber :

Deswita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung. Remaja Rosdakarya.

http://www.belajarpsikologionline.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Resiliensi

http://mariaherlina.multiply.com/journal/item/13/Bukan_korban_tetapi_orang_yang_berhasil_selamat_Survivor

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Mei 2010 in umum

 

Mengatasi Fobia..???

Saat seseorang mengalami rentetan peristiwa buruk (traumatis) ataupun ekstrim, timbul ketegangan luar biasa. Karena tubuh manusia tidak mungkin terus menerus tegang, upaya peredaan ketegangan biasanya dilakukan manusia secara tanpa sadar melalui mekanisme pertahanan diri dengan cara penekanan (repression) gangguan tersebut ke bawah sadar.

Jika seseorang tidak mampu mengatasi peristiwa traumatis tersebut, praktis pertumbuhan normal mentalnya mengalami degradasi ataupun terhenti (fiksasi). Pada peristiwa fiksasi tersebut, mental kita membentuk konfigurasi mental tertentu dan relatif permanen. Dikemudian hari jika terdapat stimulan yang sama atau mirip, maka pola respon yang akan dipakai adalah pola respon yang terakhir dikenal atau biasa disebut regresi.

Anehnya meski fobia dirasakan tidak nyaman namun banyak juga yang tidak mau menghilangkan gangguan tersebut, padahal apabila diperhatikan fobia dapat menyebabkan kerugian seperti : Energi mental untuk tumbuh / naik derajat menjadi terkuras karena habis digunakan untuk merespon sumber ketakutan dengan “cara” yang salah. Berisiko menghambat karir, jika fobia berhubungan dengan produktifitas atau pekerjaan. Mengganggu kehidupan sosial ataupun keluarga. Menjadi “model” atau teladan yang salah bagi bawahan kita, anak anak kita, dalam menyikapi persoalan. Dapat merembet ke fobia lainnya.

Bila sudah sangat parah dan menganggu, fobia memang sebaiknya harus segera diatasi dengan pemberian treatmen tertentu. Tidak semua fobia harus selalu ditreatmen dengan segera. Misalnya, bila ada seseorang yang mengalami fobia ular, namun orang tersebut tinggal di kota metropolitan yang jauh dari hutan belantara (dan jauh dari ular tentunya), maka fobia tersebut tidak terlalu membutuhkan treatmen dengan segera. Namun berbeda jika objek fobia tersebut adalah kucing, hewan yang mudah dan sering ditemui dalam lingkungan kita sehari-hari. Bila melihat betapa intensnya ketakutan penderita terhadap kucing dan betapa repot dia dibuatnya, maka sudah selayaknya fobia tersebut perlu dihilangkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi fobia yang ada. Segala tindakan tersebut intinya dilakukan untuk menghilangkan ketakutan, antara lain :

  1. Melawannya secara frontal, tetapi cara ini tidak disarankan, karena selain “menyakitkan”, jika gagal, beresiko memperparah fobia.
  2. Melawan dengan emosi lain yang lebih kuat, misalnya : rasa jijik dapat dikalahkan dengan motivasi uang “Fear Factor”. Takut gelap, dikalahkan dengan keinginan menemani pacar ke tempat gelap.
  3. Psikoterapi baik secara perorangan maupun berkelompok. Tujuan dari terapi ini memberikan bantuan dan dukungan agar ia dapat menghilangkan rasa cemas dan takutnya.
  4. Psikoanalisa agar penderita dapat menggali penyebabnya sehingga dapat menghilangkan fobia tersebut, akan tetapi hal ini membutuhkan waktu yang amat panjang.
  5. Desensitisasi. Prinsip dari terapi ini adalah dengan mendekatkan benda atau keadaan yang menakutkan pada penderita mulai dari yang ringan hingga yang paling menakutkan sehingga penderita lambat laun akan hilang rasa takutnya. Dalam kondisi relaks, individu diminta untuk menghadirkan objek atau situasi yang ditakutinya tersebut dalam imajinasi, dengan intensitas yang bertahap
  6. Pembanjiran. Prinsip dari terapi ini sama dengan desensitisasi, hanya dimulai dari yang paling menakutkan hingga yang paling ringan sehingga diharapkan rasa takut itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan keyakinan penderita.
  7. Terapi kimiawi dengan memberikan obat anti cemas atau penenang ringan tetapi harus sesuai dengan indikasi dokter.
  8. Hipnoterapi

Fobia terjadi karena pikiran bawah sadar kita salah memberi arti terhadap peristiwa traumatis yang menyebabkan fobia. Mungkin penderita tidak tahu apa yang menyebabkan terjadinya fobia.

Dengan hipnoterapi, penderita dibimbing untuk menemukan penyebab fobianya, kemudian dilakukan pembelajaran ulang atas peristiwa penyebab fobia tersebut. Dengan pemahaman yang baru mengenai peristiwa traumatis tersebut, maka fobia akan sembuh seketika dan tidak kambuh dalam waktu yang sangat lama atau bahkan selamanya.

Banyak penderita fobia yang enggan pergi ke para ahli untuk mengikuti terapi karena takut harus bersinggungan dengan obyek yang ditakuti. Namun dalam hipnoterapi penderita tidak akan diminta berhadapan dengan obyek yang ditakuti kalau masih merasa takut. Penderita tidak akan “dipaksa” untuk melawan rasa takut.

Namun, sesungguhnya tidak ada obat yang paling ampuh untuk mengatasi fobia selain keyakinan penderita bahwa ia dapat mengatasinya dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hal itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2010 in umum

 

FOBIA

A. Pengertian Fobia

Fobia berasal dari istilah Yunani ’phobos’ yang berarti lari (fight), takut dan panik (panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai sejak zaman hippocrates.

Menurut Jaspers (1923), fobia adalah rasa takut yang sangat dan tidak dapat diatasi terhadap suatu keadaan dan tugas yang biasa. Kemudian Ross (1937) menyebutkan bahwa fobia adalah rasa takut yang khas yang disadari oleh penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat mengatasinya. Sementara Errera (1962) mengungkapkan bahwa fobia adalah rasa takut yang selalu ada terhadap suatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak menimbulkan rasa takut. Dalam Wikipedia disebutkan, fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena.

Dengan begitu banyak pendapat tentang fobia, dapat disimpulkan bahwa fobia adalah suatu bentuk rasa takut yang :

  1. Tidak sesuai dengan keadaan lingkungan.
  2. Tidak dapat diterangkan atau dihilangkan dengan penjelasan.
  3. Tidak dapat diatasi denga kemauan.
  4. Menyebabkan orang mengelak daripadanya.

Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya.

Ada perbedaan “bahasa” antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Itulah bedanya fobia dengan rasa takut biasa, yaitu sesuatu yang ditakuti oleh penderita fobia biasanya bukanlah obyek yang menakutkan bagi sebagian besar orang normal.

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.

Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar “nyaman” maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara “mundur kembali”/regresi kepada keadaan fiksasi.

Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.

Fobia dapat menghambat kehidupan seseorang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang yang mengidap Fobia sulit dimengerti. Para pengidap Fobia biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan.

Penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau menjalaninya dengan penuh tekanan. Penderita menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa mereka memiliki masalah.

Semua ini memang tergantung pada sudut pandang. Sudut pandang subjek ‘penderita’ fobia dan sudut pandang orang lain adalah berbeda. Orang yang mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan apa yang ia rasakan, sementara kita yang tidak mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan nalar dan logika.

Apabila penderita fobia secara tidak sengaja atau terpaksa bersinggungan dengan obyek yang ditakuti, maka akan terjadi reaksi panik, cemas, gemetar, nafas pendek dan cepat, jantung berdebar, keringat dingin, ingin muntah, kepala pusing, badan lemas, tidak mampu bergerak, atau bahkan sampai pingsan.

Pada kasus fobia yang lebih parah, gejala kecemasan yang sangat hebat selalu menyertai penderita. Penderita akan terus-menerus merasa takut walaupun disekitarnya tidak ada obyek yang ditakutinya. Perasaan cemas bisa muncul hanya dengan membayangkan atau mengingat obyek yang ditakuti.

Sebagian besar penderita fobia menyembunyikan ketakutannya, atau tidak berterus terang kepada orang lain soal rasa takutnya yang tak wajar karena takut dianggap gila atau sakit jiwa oleh orang lain. Sebenarnya fobia bukanlah gangguan mental yang serius, orang yang menderita fobia tetap bisa beraktivitas normal dengan cara menghindari sumber rasa takutnya.

B. Penyebab Munculnya Fobia

Fobia merupakan rasa takut yang berlebihan. Rasa takut secara umum dapat timbul sebagai interaksi dari 3 faktor berikut ini:

  1. Secara biologik ditentukan sejak lahir.
  2. Bergantung pada proses maturasi.
  3. Rasa takut yang berasal dari pembelajaran pengamalan seseorang dan sosial.

Secara spesifik, rasa takut dapat disebabkan antara lain:

  1. pengaruh filogenetik
  2. pengaruh keturunan
  3. kepribadian
  4. pengaruh budaya dan daerah
  5. pengaruh faal (fungsi) tubuh
  6. faktor biokimia
  7. trauma dan tekanan
  8. teladan orang lain

Kemudian menurut DSM IV TR, seseorang dikatakan mengalami fobia apabila memenuhi karakteristik sebagai berikut:

  1. Mengalami ketakutan yang luar biasa, tidak masuk akal, dan persisten terhadap kehadiran suatu objek atau situasi.
  2. Individu menyadari bahwa perasaan takut tersebut berlebihan dan tidak masuk akal.
  3. Individu cenderung menghindari situasi yang menimbulkan fobia, atau bila tidak dapat dihindari, individu akan merasakan stres dan kecemasan yang hebat.
  4. Perasaan takut yang intens tersebut secara signifikan mempengaruhi dan menganggu kehidupan sehari-hari individu, baik di dalam pekerjaan/ sekolah ataupun fungsi sosial.
  5. Untuk individu dibawah usia 18 tahun, keadaan tersebut sudah berlangsung minimal selama 6 bulan.

Suatu trauma yang mendadak sering disertai fobia dari benda yang ada hubungannya dengan peristiwa itu. Trauma dapat berupa psikologi atau fisik. Fobia juga mulai setelah adanya tekanan yang umum dalam kehidupan. Sekali fobia telah terjangkit, maka dapat menjalar (generalize) ke panca indera yang lain.

Fobia dapat ditimbulkan akibat pengalaman menakutkan yang secara psikologis tidak dapat terselesaikan dengan baik. Misalnya fobia pada ruangan tertutup terjadi ketika pada usia 3-5 tahun anak mendapat hukuman dari orang tuanya secara berlebihan (misalnya dimasukan ke ruangan yang terkunci, sempit, gelap serta sering ditakut-takuti), sehingga menyebabkan ketakutan yang tidak tertanggulangi. Rasa takut yang tidak tertanggulangi ini kemudian masuk ke alam bawah sadar anak, dan muncul kembali dalam bentuk fobia ketika anak berusia dewasa.

Fobia juga bisa diperoleh setelah individu mengalami kejadian yang tidak menyenangkan (menyebabkan rasa sakit dan penderitaan) yang sangat membekas dalam ingatan. Kecelakaan tragis dapat menyebabkan individu trauma dan pada akhirnya mengalami fobia terhadap kendaraan atau lalu lintas

Namun sesungguhnya sulit dimengerti bagaimana munculnya fobia atau rasa takut pada suatu hal. Ya, kembali lagi karena sebagian orang menganggapnya menjadi sebuah keanehan dan keganjilan. Namun bagi si ‘penderita’ gangguan pengendalian rasa takut, apa yang dirasakannya adalah sebuah hal yang sangat menakutkan, menjijikkan bahkan mengerikan.

Semua ini memang tergantung pada sudut pandang. Sudut pandang subjek ‘penderita’ fobia dan sudut pandang orang lain adalah berbeda. Orang yang mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan apa yang ia rasakan, sementara kita yang tidak mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan nalar dan logika.

C. Pengelompokan Jenis Fobia

Menurut konsultan ilmiah Christine V Meaty Psi, fobia dapat dikelompokkan secara garis besar dalam tiga bagian, di antaranya:

  1. Fobia sederhana atau spesifik, yaitu fobia terhadap suatu objek atau keadaan tertentu, seperti pada binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.
  2. Fobia social, yaitu fobia terhadap pemaparan situasi sosial, seperti takut jadi pusat perhatian. Orang seperti ini senang menghindari tempat-tempat ramai.
  3. Fobia kompleks, yaitu fobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka misalnya di kendaraan umum atau mal. Orang seperti ini bisa saja takut keluar rumah.

Kata fobia memang tak lepas dari rasa takut. Penggolongan rasa takut dan fobia menurut L.Marks ( 1969) antara lain :

  1. Rasa takut yang biasa ( normal fears )

Kebanyakan anak mempunyai rasa takut yang jamak, seperti takut ditinggal orang tua, suara keras, orang asing, hewan dan keadaan yangtidak biasa. Pada orang dewasa terdapat rasa takut terhadap tempat tinggi, lift, tempat gelap. Laba-laba, menghadapi ujian yang sifatnya ringan dan cukup diatasi dengan penjelasan yang singkat.

  1. Rasa takut yang tidak biasa ( abnormal fears / fobia )
  1. Fobia terhadap rangsang dari luar, antara lain :
  • Agora fobia ( phobic anxiety state ) merupakan jenis fobia tersering dan tersukar untuk diatasi dokter, dan sering membutuhkan perawatan rumah sakit apabila terlalu hebat rasa takutnya sehingga membuat penderita tidak dapat melakukan apapun. Fobia ini sering terjadi pada wanita, biasanya setelah pubertas ( 15-35 tahun ), biasanya ditandai dengan ketakutan untuk :
  • pergi sendiri
  • perjalanan
  • ruang yang terbuka
  • keramaian / tempat-tempat umum mis : pasar, banyak orang

Akibat fobia tersebut, penderita menjadi terpaku di rumah, sebagian menjadi ketakutan akan bayangan akan pingsan dan ditinggalkan diantara orang banyak, yang menjadi salah satu masalah penting bagi kebanyakan penderita ini adalah tidaktersedianya kemungkinan untuk bisa keluar dari satu lingkungan tertentu

  • Fobia sosial adalah adalah orang yang takut pada aktivitas social karena takut akan terjadinya rasa canggung dan cemas pada waktu makan, minum, berbicara di depan umum maupun dalam menghadapi jenis kelamin lain.

Rasa takut ini berlainan dengan rasa takut pada orang banyak seperti agoraphobia dimana takut mengenai jumlah orang bukan perorangan yang memperhatikannya seperti fobia social.

Fobia ini sering mengenai remaja, dimana frekuensinya sama antara wanita maupun pria. Fobia social biasanya disertai harga diri yang rendah dan takut untuk dikritik.

  • Fobia hewan, fobia ini saling berbatas jelas dan jarang terdapat dalam rumah sakit jiwa. Penderita kebanyakan wanita dan terjadi sejak kecil.
  • Fobia khusus adalah fobia yang terbatas pada situasi yang spesifik misalnya : tempat tinggi, petir, guntur dll. Fobia ini biasanya timbul pada masa kanak-kanak atau dewasa muda dan menetap sampai puluhan tahun bila tidak diobati.
  1. Fobia terhadap rangsangan dari dalam, antara lain :
  • Fobia terhadap penyakit, merupakan rasa takut yang sangat terhadap penyakit khusus mis : kanker, sakit jantung dll.
  • Fobia obsesif, merupakan rasa takut terhadap perasaan sendiri yang disadari oleh penderita namun tidak atas kehendaknya dimana ia tidak dapat mengatsinya lagi mis: khawatir menyakiti orang lain atau mengeluarkan kata-kata kotor dll

D. AGORAFOBIA

Arti harfiah dari agorafobia adalah takut akan keramaian atau tempat terbuka. Secara lebih khusus agorafobia menunjukkan ketakutan akan terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila kecemasan menyerang.

Keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita agoraphobia adalah antri di bank atau pasar swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat terbang.

Beberapa orang menderita agorafobia setelah mengalami serangan panik pada salah satu keadaan tersebut. Yang lainnya hanya merasakan tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan panik. Agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya diam di dalam rumah.

Setiap periode 6 bulan, telah terdiagnosis agorafobia pada 3,8% wanita dan 1,8% pria. Penyakit ini paling sering muncul pada awal usia 20 tahun, jarang terjadi diatas usia 40 tahun.

Pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi pemaparan. Dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan tetap berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses ini disebut habituasi). Terapi pemaparan telah membantu lebih dari 90% penderita yang menjalaninya secara rutin.

Kepada penderita yang mengalami depresi berat diberikan obat anti-depresi. Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbelakangi terjadinya kecemasan.

  1. E. Fobia Sosial

Kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang serasi dengan yang lainnya melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, hobi, kencan dan perjodohan. Kecemasan tertentu dalam situasi sosial adalah normal, tetapi penderita fobia sosial merasakan kecemasan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 13% penduduk pernah mengalami fobia sosial. Keadaan-keadaan yang sering memicu terjadi kecemasan pada penderita fobia sosial adalah:

  • berbicara di depan umum
  • tampil di depan umum (main drama atau main musik)
  • makan di depan orang lain
  • menandatangani dokumen sebelum bersaksi
  • menggunakan kamar mandi umum.

Penderita merasa penampilan atau aksi mereka tidak tepat. Mereka seringkali khawatir bahwa kecemasannya akan tampak, sehingga mereka berkeringat, pipinya kemerahan, muntah, gemetaran atau suaranya bergetar; jalan pikirannya terganggu atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan maksud mereka.

Jenis fobia sosial yang lebih umum ditandai dengan kecemasan pada hampir seluruh situasi sosial. Penderita fobia sosial menyeluruh biasanya merasa bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mereka akan merasa terhina atau dipermalukan.

Beberapa orang memiliki rasa malu yang wajar dan menunjukkan malu–malu pada masa kanak-kanak yang di kemudian hari berkembang menjadi fobia sosial. Yang lainnya mengalami kecemasan dalam situasi sosial pertama kali pada masa pubertas.

Fobia sosial sering menetap jika tidak diobati, sehingga penderita menghindari aktivitas yang sesungguhnya ingin mereka ikuti. Terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang efektif untuk mengatasi fobia sosial. Obat anti-depresi (misalnya sertralinklonazepam), juga bisa membantu beberapa penderita fobia sosial. Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia sosial.

  1. F. Fobia Spesifik

Fobia spesifik merupakan penyakit kecemasan yang paling sering terjadi. Sekitar 7% wanita dan 4,3% pria mengalami fobia spesifik setiap periode 6 bulan.

Beberapa fobia spesifik (misalnya takut binatang, kegelapan atau orang asing) mulai timbul pada masa kanak-kanak. Banyak fobia yang menghilang setelah penderita beranjak dewasa. Fobia lainnya (misalnya takut hewan pengerat, serangga, badai, air, ketinggian, terbang atau tempat tertutup) baru timbul di kemudian hari.

5% penduduk menderita fobia tingkat tertentu pada darah, suntikan atau cedera; dan penderita bisa mengalami pingsan, yang tidak terjadi pada fobia maupun penyakit kecemasan lainnya. Sebaliknya, banyak pendeita penyakit kecemasan yang mengalami hiperventilasi, yang menimbulkan perasaan akan pingsan, tetapi mereka tidak pernah benar-benar pingsan.

Penderita seringkali dapat mengatasi fobia spesifik dengan cara menghindari benda atau keadaan yang ditakutinya. Terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku dimana penderita secara bertahap dihadaptkan kepada benda atau keadaan yang ditakutinya. Terapi ini merupakan pengobatan terbaik untuk fobia spesifik.

Obat-obatan tidak terlalu bermanfaat dalam mengatasi fobia spesifik. Benzodiazepin (obat anit-cemas) bisa diberikan sebagi pengendali fobia jangka pendek pada penderita yang takut terbang ketika akan bepergian dengan pesawat terbang. Psikoterapi dilakukan agar penderita memahami pertentangan psikis yang mungkin melatarbelakangi terjadinya fobia spesifik.

G. Mengatasi Fobia

Saat seseorang mengalami rentetan peristiwa buruk (traumatis) ataupun ekstrim, timbul ketegangan luar biasa. Karena tubuh manusia tidak mungkin terus menerus tegang, upaya peredaan ketegangan biasanya dilakukan manusia secara tanpa sadar melalui mekanisme pertahanan diri dengan cara penekanan (repression) gangguan tersebut ke bawah sadar.

Jika seseorang tidak mampu mengatasi peristiwa traumatis tersebut, praktis pertumbuhan normal mentalnya mengalami degradasi ataupun terhenti (fiksasi). Pada peristiwa fiksasi tersebut, mental kita membentuk konfigurasi mental tertentu dan relatif permanen. Dikemudian hari jika terdapat stimulan yang sama atau mirip, maka pola respon yang akan dipakai adalah pola respon yang terakhir dikenal atau biasa disebut regresi.

Anehnya meski fobia dirasakan tidak nyaman namun banyak juga yang tidak mau menghilangkan gangguan tersebut, padahal apabila diperhatikan fobia dapat menyebabkan kerugian seperti : Energi mental untuk tumbuh / naik derajat menjadi terkuras karena habis digunakan untuk merespon sumber ketakutan dengan “cara” yang salah. Berisiko menghambat karir, jika fobia berhubungan dengan produktifitas atau pekerjaan. Mengganggu kehidupan sosial ataupun keluarga. Menjadi “model” atau teladan yang salah bagi bawahan kita, anak anak kita, dalam menyikapi persoalan. Dapat merembet ke fobia lainnya.

Bila sudah sangat parah dan menganggu, fobia memang sebaiknya harus segera diatasi dengan pemberian treatmen tertentu. Tidak semua fobia harus selalu ditreatmen dengan segera. Misalnya, bila ada seseorang yang mengalami fobia ular, namun orang tersebut tinggal di kota metropolitan yang jauh dari hutan belantara (dan jauh dari ular tentunya), maka fobia tersebut tidak terlalu membutuhkan treatmen dengan segera. Namun berbeda jika objek fobia tersebut adalah kucing, hewan yang mudah dan sering ditemui dalam lingkungan kita sehari-hari. Bila melihat betapa intensnya ketakutan penderita terhadap kucing dan betapa repot dia dibuatnya, maka sudah selayaknya fobia tersebut perlu dihilangkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi fobia yang ada. Segala tindakan tersebut intinya dilakukan untuk menghilangkan ketakutan, antara lain :

  1. Melawannya secara frontal, tetapi cara ini tidak disarankan, karena selain “menyakitkan”, jika gagal, beresiko memperparah fobia.
  2. Melawan dengan emosi lain yang lebih kuat, misalnya : rasa jijik dapat dikalahkan dengan motivasi uang “Fear Factor”. Takut gelap, dikalahkan dengan keinginan menemani pacar ke tempat gelap.
  3. Psikoterapi baik secara perorangan maupun berkelompok. Tujuan dari terapi ini memberikan bantuan dan dukungan agar ia dapat menghilangkan rasa cemas dan takutnya.
  4. Psikoanalisa agar penderita dapat menggali penyebabnya sehingga dapat menghilangkan fobia tersebut, akan tetapi hal ini membutuhkan waktu yang amat panjang.
  5. Desensitisasi. Prinsip dari terapi ini adalah dengan mendekatkan benda atau keadaan yang menakutkan pada penderita mulai dari yang ringan hingga yang paling menakutkan sehingga penderita lambat laun akan hilang rasa takutnya. Dalam kondisi relaks, individu diminta untuk menghadirkan objek atau situasi yang ditakutinya tersebut dalam imajinasi, dengan intensitas yang bertahap
  6. Pembanjiran. Prinsip dari terapi ini sama dengan desensitisasi, hanya dimulai dari yang paling menakutkan hingga yang paling ringan sehingga diharapkan rasa takut itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan keyakinan penderita.
  7. Terapi kimiawi dengan memberikan obat anti cemas atau penenang ringan tetapi harus sesuai dengan indikasi dokter.
  8. Hipnoterapi

Fobia terjadi karena pikiran bawah sadar kita salah memberi arti terhadap peristiwa traumatis yang menyebabkan fobia. Mungkin penderita tidak tahu apa yang menyebabkan terjadinya fobia.

Dengan hipnoterapi, penderita dibimbing untuk menemukan penyebab fobianya, kemudian dilakukan pembelajaran ulang atas peristiwa penyebab fobia tersebut. Dengan pemahaman yang baru mengenai peristiwa traumatis tersebut, maka fobia akan sembuh seketika dan tidak kambuh dalam waktu yang sangat lama atau bahkan selamanya.

Banyak penderita fobia yang enggan pergi ke para ahli untuk mengikuti terapi karena takut harus bersinggungan dengan obyek yang ditakuti. Namun dalam hipnoterapi penderita tidak akan diminta berhadapan dengan obyek yang ditakuti kalau masih merasa takut. Penderita tidak akan “dipaksa” untuk melawan rasa takut.

Namun, sesungguhnya tidak ada obat yang paling ampuh untuk mengatasi fobia selain keyakinan penderita bahwa ia dapat mengatasinya dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hal itu.

Sulit dimengerti bagaimana munculnya fobia atau rasa takut pada suatu hal. Ya, kembali lagi karena sebagian orang menganggapnya menjadi sebuah keanehan dan keganjilan. Namun bagi penderita, gangguan pengendalian rasa takut, apa yang dirasakannya adalah sebuah hal yang sangat menakutkan, menjijikkan bahkan mengerikan.

Semua ini memang tergantung pada sudut pandang. Sudut pandang subjek ‘penderita’ fobia dan sudut pandang orang lain adalah berbeda. Orang yang mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan apa yang ia rasakan, sementara kita yang tidak mengalami fobia akan melihatnya berdasarkan nalar dan logika.

Rasa takut itu memang sudah lumrah, wajar dan manusiawi. Takut adalah respon dari diri manusia atas tanda atau sinyal bahaya yang akan datang. Rasa takut pada sosok binatang buas seperti harimau menjadi sinyal bahwa bahaya akan datang bila kita berada dekat dengannya. Takut salah artinya kita mencegah supaya tidak terjadi bahaya dan efek buruk yang muncul akibat kesalahan kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 April 2010 in umum

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.